
MENGAMBIL BERKAH TUAN GURU DI MASYARAKAT BANJAR
“MENGAMBIL BERKAH TUAN GURU DI MASYARAKAT BANJAR”
Prof. Dr. H. Akhmad Sagir, M.Ag
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Swt. yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita. Atas izin-Nya, pada pagi hari ini kita masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara segar, menikmati kesehatan, serta kembali berjumpa dengan waktu subuh yang penuh ketenangan dan keberkahan.
Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw., kepada keluarga, para sahabat, serta seluruh umat beliau yang istiqamah mengikuti ajaran Islam hingga akhir zaman.
Pendengar RRI Banjarmasin yang dirahmati Allah Swt.,
Pada kesempatan ini, kita akan membahas sebuah tradisi yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Banjar, yaitu tradisi meminta berkah kepada Tuan Guru.
Tradisi ini menarik untuk dibicarakan karena memperlihatkan hubungan yang erat antara ajaran Islam, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan agama, peran ulama, dan kebudayaan lokal. Di tengah kehidupan masyarakat Banjar, Tuan Guru bukan sekadar sosok yang menyampaikan ceramah keagamaan, melainkan juga figur yang menjadi rujukan moral, tempat bertanya, serta sumber bimbingan spiritual bagi masyarakat.
Namun, untuk memahami tradisi ini secara utuh, kita perlu melihatnya tidak hanya sebagai kebiasaan turun-temurun, tetapi juga sebagai praktik sosial yang mengandung nilai-nilai keagamaan, etika, dan kearifan lokal.
A. Tuan Guru dalam Struktur Sosial dan Keagamaan Masyarakat Banjar
Dalam kehidupan masyarakat Banjar, istilah Tuan Guru digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang yang memiliki pengetahuan agama Islam dan berperan dalam membimbing kehidupan keagamaan masyarakat. Sebutan ini umumnya berkaitan dengan penguasaan ilmu agama, aktivitas dakwah, pengajaran, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Secara sosial, Tuan Guru menempati posisi yang cukup penting dalam struktur kehidupan masyarakat. Peran tersebut dapat terlihat melalui pengajian, majelis taklim, pendidikan pesantren, pembinaan keluarga, hingga keterlibatan dalam penyelesaian persoalan sosial dan keagamaan.
Kedudukan Tuan Guru tidak semata-mata dibangun atas dasar pengetahuan yang dimilikinya, tetapi juga melalui kepercayaan masyarakat terhadap integritas moral, keteladanan, dan pengabdiannya.
Dalam konteks ini, Tuan Guru dapat dipahami sebagai salah satu figur yang berperan dalam proses pewarisan nilai-nilai Islam sekaligus pembentukan karakter sosial masyarakat Banjar. Melalui pengajaran dan keteladanan, nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab sosial diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Oleh karena itu, penghormatan masyarakat Banjar terhadap Tuan Guru perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi menghormati ilmu dan orang yang mengajarkannya. Penghormatan tersebut idealnya tidak berhenti pada simbol-simbol lahiriah, tetapi juga diwujudkan melalui kesediaan mengamalkan nasihat, meneladani akhlak, dan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan nyata.
B. Memahami Makna Berkah dan Praktik Meminta Berkah
Pendengar RRI Banjarmasin yang dirahmati Allah Swt.,
Sebelum membahas lebih jauh mengenai praktik meminta berkah kepada Tuan Guru, kita perlu memahami terlebih dahulu makna berkah dalam perspektif keislaman.
Secara umum, berkah atau barakah dapat dipahami sebagai bertambahnya kebaikan, kebermanfaatan, dan kebaikan yang berkelanjutan dalam kehidupan. Keberkahan tidak selalu identik dengan kekayaan materi, jabatan, atau keberhasilan yang dapat diukur secara kasatmata. Ketenangan hati, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang harmonis, kesehatan, serta kemampuan menggunakan rezeki untuk kebaikan juga dapat dimaknai sebagai bentuk keberkahan.
Dalam tradisi masyarakat Banjar, meminta berkah kepada Tuan Guru dapat diwujudkan melalui beberapa praktik, antara lain bersilaturahmi, meminta doa, memohon nasihat, serta meminta bimbingan sebelum menjalankan suatu urusan penting.
Misalnya, seseorang yang hendak menuntut ilmu ke luar daerah, memulai usaha, melangsungkan pernikahan, atau berangkat menunaikan ibadah haji dan umrah dapat mendatangi Tuan Guru untuk menyampaikan maksud dan memohon doa.
Praktik tersebut memperlihatkan adanya keyakinan bahwa doa, nasihat, dan bimbingan keagamaan merupakan bagian dari ikhtiar manusia dalam menjalani kehidupan.
Meskipun demikian, terdapat prinsip penting yang perlu ditegaskan. Dalam akidah Islam, Allah Swt. merupakan sumber segala keberkahan dan pertolongan. Tuan Guru dihormati karena ilmu, ketakwaan, dan keteladanannya, serta dapat dimintai doa dan nasihat. Kedudukan tersebut tidak berarti bahwa seorang manusia memiliki kekuasaan mutlak untuk memberikan keberkahan secara mandiri.
Dengan pemahaman ini, tradisi meminta berkah dapat ditempatkan dalam kerangka penghormatan terhadap orang berilmu, penguatan ikhtiar, dan permohonan kepada Allah Swt. melalui doa serta bimbingan keagamaan.
C. Bentuk dan Praktik Tradisi Meminta Berkah dalam Kehidupan Masyarakat Banjar
Tradisi meminta berkah kepada Tuan Guru dapat ditemukan dalam berbagai situasi kehidupan masyarakat. Bentuk pelaksanaannya tidak selalu sama, karena dipengaruhi oleh kebiasaan keluarga, lingkungan sosial, serta pemahaman keagamaan masing-masing.
Pertama, meminta doa sebelum menjalankan urusan penting. Sebagian masyarakat mendatangi Tuan Guru sebelum melakukan perjalanan jauh, melanjutkan pendidikan, memulai pekerjaan, atau menjalankan usaha. Mereka berharap memperoleh nasihat dan doa agar urusan yang dijalani mendatangkan kebaikan.
Kedua, meminta nasihat dalam menghadapi persoalan kehidupan. Tuan Guru menjadi tempat masyarakat berkonsultasi mengenai persoalan ibadah, keluarga, pendidikan anak, hubungan sosial, dan berbagai persoalan moral. Dalam hal ini, peran Tuan Guru tidak hanya berkaitan dengan doa, tetapi juga dengan pemberian pertimbangan berdasarkan ajaran agama.
Ketiga, bersilaturahmi pada momentum keluarga dan keagamaan. Menjelang pernikahan, keberangkatan haji dan umrah, atau peristiwa penting lainnya, sebagian keluarga mengunjungi Tuan Guru untuk menyampaikan maksud, memohon doa, dan memperoleh nasihat.
Keempat, mengenalkan anak kepada figur yang menjadi teladan keagamaan. Orang tua dapat mengajak anak bersilaturahmi kepada Tuan Guru untuk menanamkan adab, memperkenalkan tradisi menghormati orang berilmu, dan memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan agama.
Kelima, menunjukkan penghormatan melalui adab dan perilaku. Penghormatan dapat diwujudkan dengan bertutur kata sopan, mendengarkan nasihat secara saksama, menjaga sikap, serta tidak mengganggu kegiatan pengajaran atau ibadah.
Berbagai praktik tersebut menunjukkan bahwa hubungan masyarakat dengan Tuan Guru tidak hanya dibangun melalui ritual atau simbol tertentu, tetapi juga melalui komunikasi, pendidikan, dan interaksi sosial yang berlangsung secara berkelanjutan.
Dalam perspektif sosial-budaya, praktik ini dapat menjadi ruang pertemuan antara nilai agama dan kebiasaan masyarakat. Akan tetapi, setiap praktik tetap perlu dipahami secara proporsional, dengan mempertimbangkan tuntunan agama, akal sehat, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
D. Nilai-Nilai Keagamaan dan Budaya dalam Tradisi Meminta Berkah
Tradisi meminta berkah kepada Tuan Guru mengandung sejumlah nilai yang relevan untuk dipertahankan dan dikembangkan dalam kehidupan masyarakat Banjar.
Pertama, nilai penghormatan terhadap ilmu dan guru.
Islam menempatkan ilmu sebagai unsur penting dalam pembentukan manusia yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab. Menghormati Tuan Guru merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap ilmu agama dan proses pendidikan yang berlangsung di tengah masyarakat.
Namun, penghormatan yang ideal harus disertai sikap kritis dan proporsional. Kedudukan seorang guru tidak menjadikannya terbebas dari kekeliruan. Karena itu, penghormatan terhadap guru harus berjalan seiring dengan tanggung jawab untuk memahami ajaran agama secara benar.
Kedua, nilai religiusitas.
Tradisi ini mencerminkan pentingnya agama dalam kehidupan masyarakat Banjar. Keputusan dan peristiwa penting tidak semata-mata dipandang dari aspek material, tetapi juga dipertimbangkan melalui dimensi spiritual dan moral.
Nilai religiusitas tersebut dapat menjadi kekuatan apabila diwujudkan melalui ibadah, doa, kejujuran, tanggung jawab, dan perilaku yang bermanfaat bagi sesama.
Ketiga, nilai silaturahmi dan solidaritas sosial.
Kunjungan kepada Tuan Guru membuka ruang interaksi antara individu, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Pertemuan tersebut dapat mempererat hubungan sosial, membangun komunikasi, serta menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi orang lain.
Dengan demikian, silaturahmi tidak hanya memiliki dimensi personal, tetapi juga dapat memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat.
Keempat, nilai keteladanan moral.
Masyarakat umumnya berharap Tuan Guru dapat menjadi teladan dalam perilaku, tutur kata, dan sikap terhadap sesama. Keteladanan tersebut penting karena pendidikan agama tidak hanya berlangsung melalui ceramah, tetapi juga melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pada saat yang sama, masyarakat perlu memahami bahwa keteladanan harus tercermin dalam perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata berdasarkan popularitas atau status sosial seseorang.
Kelima, nilai kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Hubungan antara Tuan Guru dan masyarakat dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan bantuan. Nasihat keagamaan dapat mendorong masyarakat untuk saling menolong, memperkuat solidaritas, serta menyelesaikan persoalan sosial dengan pendekatan yang bermartabat.
Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa tradisi meminta berkah tidak hanya dapat dibicarakan dalam konteks hubungan spiritual, tetapi juga dalam kaitannya dengan pembentukan karakter dan penguatan kehidupan sosial.
E. Tradisi Meminta Berkah dalam Perspektif Sosial-Budaya Masyarakat Banjar
Pendengar yang berbahagia,
Masyarakat Banjar memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan kehidupan sosial yang dipengaruhi oleh ajaran Islam. Dalam proses sejarah tersebut, nilai-nilai keagamaan berinteraksi dengan kebiasaan lokal dan membentuk berbagai tradisi yang diwariskan antargenerasi.
Tradisi meminta berkah kepada Tuan Guru dapat dipahami sebagai salah satu bentuk perjumpaan antara agama dan budaya. Di dalamnya terdapat dimensi keyakinan, penghormatan, hubungan sosial, pendidikan, dan pewarisan nilai.
Dari perspektif sosiologis, Tuan Guru dapat berperan sebagai figur yang membantu masyarakat memahami persoalan kehidupan melalui kerangka nilai keagamaan. Kepercayaan masyarakat terhadap figur tersebut juga dapat membangun hubungan sosial yang didasarkan pada rasa hormat dan kedekatan moral.
Sementara itu, dari perspektif antropologis, tradisi ini dapat dilihat sebagai praktik budaya yang mengandung simbol dan makna. Kunjungan kepada Tuan Guru, penyampaian maksud kedatangan, permohonan doa, dan penerimaan nasihat bukan sekadar tindakan individual, melainkan juga cara masyarakat mengekspresikan penghormatan dan harapan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa masyarakat Banjar bukanlah kelompok yang sepenuhnya seragam. Pemahaman dan pelaksanaan tradisi ini dapat berbeda antara individu, keluarga, komunitas, dan lingkungan keagamaan. Oleh sebab itu, pembahasannya perlu menghindari generalisasi bahwa seluruh masyarakat Banjar memiliki praktik dan pandangan yang sama.
Tradisi ini juga perlu ditempatkan dalam dinamika kehidupan modern. Perubahan pola pendidikan, perkembangan teknologi informasi, dan meningkatnya akses terhadap sumber pengetahuan agama dapat memengaruhi cara generasi muda memahami hubungan antara ulama, tradisi, dan ajaran Islam.
Dalam konteks tersebut, upaya melestarikan tradisi tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk lahiriahnya. Yang lebih penting adalah menjaga substansi nilai yang terkandung di dalamnya, seperti penghormatan terhadap ilmu, adab, ketulusan, silaturahmi, dan kepedulian sosial.
F. Etika dan Batasan dalam Memahami Tradisi Meminta Berkah
Sebagai tradisi yang berkaitan erat dengan keyakinan agama, praktik meminta berkah perlu dipahami secara bijaksana agar tidak kehilangan orientasi dasarnya.
Pertama, masyarakat perlu meneguhkan keyakinan bahwa Allah Swt. adalah sumber segala pertolongan dan keberkahan. Permohonan doa kepada Tuan Guru hendaknya ditempatkan dalam kerangka ikhtiar, bukan sebagai pengganti hubungan langsung seorang hamba dengan Allah melalui doa dan ibadah.
Kedua, penghormatan kepada Tuan Guru harus tetap berada dalam batas yang wajar. Menghormati guru tidak berarti menempatkan manusia pada kedudukan yang melampaui batas kemanusiaannya. Setiap orang tetap memiliki tanggung jawab untuk menilai nasihat berdasarkan ajaran agama dan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, tradisi ini hendaknya tidak dimanfaatkan untuk kepentingan yang merugikan masyarakat. Hubungan kepercayaan antara guru agama dan masyarakat harus dibangun di atas ketulusan, keterbukaan, dan tanggung jawab moral. Praktik yang mengarah pada pemaksaan, eksploitasi, atau penyalahgunaan kepercayaan perlu dihindari.
Keempat, permohonan doa harus disertai usaha nyata. Seseorang yang meminta doa agar berhasil dalam pendidikan tetap harus belajar dengan sungguh-sungguh. Orang yang memohon keberkahan dalam usaha tetap harus bekerja secara jujur dan profesional. Demikian pula, keluarga yang mengharapkan rumah tangga harmonis harus berusaha membangun komunikasi, tanggung jawab, dan kasih sayang.
Dengan demikian, doa dan ikhtiar bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan.
Pemahaman yang proporsional ini penting agar tradisi meminta berkah tetap berakar pada nilai-nilai keislaman sekaligus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
G. Contoh Praktik dalam Kehidupan Sehari-hari
Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, mari kita melihat sebuah contoh sederhana.
Seorang pemuda akan berangkat ke luar daerah untuk melanjutkan pendidikan. Sebelum keberangkatannya, ia bersama keluarganya bersilaturahmi kepada seorang Tuan Guru. Mereka menyampaikan maksud kedatangan, meminta nasihat, dan memohon doa agar perjalanan serta proses pendidikan yang akan dijalani memperoleh kebaikan.
Tuan Guru kemudian menasihati pemuda tersebut agar bersungguh-sungguh menuntut ilmu, menjaga ibadah, menghormati orang tua dan guru, menghindari pergaulan yang merugikan, serta menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk membantu masyarakat.
Dalam contoh tersebut, makna meminta berkah tidak berhenti pada permohonan doa. Tradisi itu juga menjadi momentum pendidikan moral, penguatan motivasi, dan peneguhan tanggung jawab.
Contoh lainnya dapat ditemukan dalam kehidupan keluarga. Ketika hendak melangsungkan pernikahan, sebuah keluarga bersilaturahmi kepada Tuan Guru untuk memohon doa dan nasihat. Nasihat yang diberikan dapat berkaitan dengan tanggung jawab suami dan istri, pentingnya komunikasi, penghormatan terhadap keluarga, serta penyelesaian persoalan rumah tangga secara bijaksana.
Dari kedua contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa tradisi meminta berkah memiliki potensi untuk memperkuat dimensi spiritual sekaligus memberikan arah moral bagi tindakan manusia.
Keberhasilan pendidikan tetap memerlukan kesungguhan belajar. Keharmonisan keluarga tetap membutuhkan tanggung jawab kedua belah pihak. Keberhasilan usaha tetap memerlukan kerja keras dan kejujuran. Doa, nasihat, dan ikhtiar merupakan unsur-unsur yang saling melengkapi dalam menjalani kehidupan.
H. Menjaga Tradisi, Menguatkan Substansi Nilai
Pendengar RRI Banjarmasin yang dirahmati Allah Swt.,
Di tengah perubahan zaman, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting: bagaimana menjaga tradisi lokal agar tetap hidup, tetapi tidak kehilangan substansi nilai yang menjadi landasannya?
Jawabannya terletak pada kemampuan masyarakat untuk membedakan antara nilai dasar yang perlu dipertahankan dan bentuk praktik yang dapat berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Tradisi meminta berkah kepada Tuan Guru dapat terus dirawat sebagai sarana menghormati ilmu, mempererat silaturahmi, memperoleh nasihat, dan menumbuhkan keteladanan. Akan tetapi, pelestarian tradisi perlu disertai penguatan literasi keagamaan agar masyarakat memahami makna doa, keberkahan, dan kedudukan ulama secara proporsional.
Generasi muda, misalnya, perlu diperkenalkan bukan hanya kepada kebiasaan bersilaturahmi kepada Tuan Guru, melainkan juga kepada nilai-nilai yang mendasarinya. Mereka perlu memahami bahwa menghormati guru berarti bersungguh-sungguh belajar, mengamalkan ilmu, menjaga akhlak, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Demikian pula, Tuan Guru memiliki peran strategis dalam membimbing masyarakat agar tradisi keagamaan tetap berorientasi pada kemaslahatan. Keteladanan, keluasan ilmu, sikap rendah hati, dan kepedulian sosial merupakan unsur penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
Dengan cara demikian, tradisi tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga sumber nilai yang relevan bagi kehidupan masa kini dan masa depan.
I. Penutup dan Kesimpulan
Pendengar RRI Banjarmasin yang berbahagia,
Dari pembahasan kita hari ini, dapat disimpulkan bahwa tradisi meminta berkah kepada Tuan Guru merupakan salah satu praktik sosial-keagamaan yang dapat dijumpai dalam kehidupan masyarakat Banjar. Tradisi ini mencerminkan hubungan antara penghormatan terhadap ilmu agama, kepercayaan kepada figur keagamaan, serta upaya masyarakat memperoleh doa, nasihat, dan bimbingan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Di dalamnya terkandung nilai religiusitas, penghormatan terhadap guru, silaturahmi, keteladanan moral, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi penting untuk dipelihara karena dapat mendukung pembentukan karakter sekaligus memperkuat hubungan sosial masyarakat.
Namun, kita juga perlu memahami bahwa keberkahan pada hakikatnya berasal dari Allah Swt. Tuan Guru dihormati sebagai orang yang memiliki ilmu dan keteladanan serta dapat dimintai doa dan nasihat, bukan sebagai sumber keberkahan yang berdiri sendiri. Penghormatan terhadap ulama harus berjalan seiring dengan pemahaman agama yang benar, sikap yang proporsional, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Oleh karena itu, marilah kita menjaga tradisi yang baik dengan memperkuat substansi nilai yang terkandung di dalamnya. Hormatilah guru, cintailah ilmu, pereratlah silaturahmi, dan amalkanlah nasihat yang membawa kebaikan. Sebab, penghormatan yang paling bermakna kepada seorang guru bukan hanya terlihat dari cara kita bersikap di hadapannya, tetapi juga dari bagaimana kita mengamalkan ilmu dan akhlak yang diajarkannya.
Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita agar menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, menjaga tradisi yang baik, serta mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Demikian yang dapat kita sampaikan pada kesempatan pagi hari ini. Semoga pembahasan ini memberikan manfaat dan menambah pemahaman kita tentang kekayaan tradisi keagamaan masyarakat Banjar.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Budaya Banjar, FUH-RRI_4
Banjarmasin, 9 Oktober 2026
(Editor : Humas Fuh/Alf)




