
GEN Z BERANI MELANGKAH MEMBANGUN KEYAKINAN DIRI DENGAN IKHTIAR DAN TAWAKAL
Oleh; Dr. Shanty Komalasari, M.Psi., Psikolog
Generasi Z tumbuh dalam lingkungan sosial yang ditandai oleh perkembangan teknologi digital, perubahan dunia pendidikan, persaingan dunia kerja, serta tuntutan untuk terus beradaptasi. Di satu sisi, generasi ini memiliki akses yang luas terhadap informasi, pengetahuan, dan berbagai peluang pengembangan diri. Namun, di sisi lain, mereka juga menghadapi tantangan yang tidak sederhana, mulai dari ketidakpastian masa depan, tekanan sosial, perbandingan pencapaian di media sosial, hingga keraguan terhadap kemampuan diri sendiri.
Tidak sedikit anak muda yang memiliki keinginan untuk berkembang, tetapi justru terhambat oleh ketakutan sebelum mencoba. Ada mahasiswa yang sebenarnya memahami materi perkuliahan, tetapi memilih diam ketika diskusi karena takut pendapatnya dianggap salah. Ada lulusan baru yang ingin melamar pekerjaan, tetapi mengurungkan niat setelah membaca persyaratan yang dirasa terlalu tinggi. Ada pula anak muda yang mempunyai gagasan untuk membangun usaha, tetapi lebih dahulu membayangkan kegagalan daripada mempersiapkan langkah untuk memulainya.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa persoalan generasi muda tidak selalu berkaitan dengan keterbatasan pengetahuan atau kesempatan. Dalam sejumlah keadaan, tantangan juga muncul dari cara seseorang memandang kemampuan dirinya dan menilai kemungkinan untuk berhasil menjalankan suatu tugas.
Keraguan merupakan pengalaman manusiawi. Setiap orang dapat mengalaminya ketika menghadapi sesuatu yang baru, menantang, atau memiliki konsekuensi penting. Akan tetapi, keraguan yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi penghambat tindakan. Seseorang mungkin terus menunda, menghindari tantangan, dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensinya.
Oleh karena itu, membangun keyakinan diri menjadi bagian penting dalam proses pengembangan generasi muda. Keyakinan tersebut bukan berarti merasa mampu melakukan segala sesuatu tanpa batas, melainkan memiliki penilaian yang realistis terhadap kemampuan diri, bersedia belajar, berani mencoba, dan mampu mengevaluasi kekurangan.
Dalam perspektif psikologi, konsep ini berkaitan dengan self-efficacy atau efikasi diri. Sementara itu, dalam perspektif Islam, keberanian untuk berusaha perlu ditempatkan dalam kerangka ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah Swt.
Dengan demikian, tema Gen Z Berani Melangkah: Membangun Keyakinan Diri dengan Ikhtiar dan Tawakal menjadi relevan untuk membangun generasi muda yang tidak hanya memiliki keberanian menghadapi tantangan, tetapi juga mempunyai kesadaran spiritual, tanggung jawab moral, dan keteguhan dalam menjalani proses kehidupan.
1. Memahami Keraguan dan Konsep Efikasi Diri
Salah satu konsep penting dalam psikologi yang dapat digunakan untuk memahami keyakinan seseorang terhadap kemampuannya adalah self-efficacy atau efikasi diri. Albert Bandura (2006) menjelaskan efikasi diri sebagai keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengorganisasikan dan melaksanakan tindakan yang diperlukan dalam mencapai tujuan tertentu.
Efikasi diri berkaitan dengan kemampuan menjalankan tugas tertentu, bukan semata-mata penilaian umum mengenai harga diri atau keberhargaan seseorang. Artinya, seseorang dapat memiliki keyakinan tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan tertulis, tetapi belum tentu memiliki keyakinan yang sama ketika harus berbicara di depan banyak orang.
Pembedaan ini penting karena sering kali seseorang menilai dirinya secara keseluruhan hanya berdasarkan satu pengalaman atau kegagalan. Ketika tidak mampu menjawab pertanyaan dalam wawancara kerja, misalnya, seseorang kemudian menyimpulkan bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan. Padahal, kesulitan tersebut mungkin hanya berkaitan dengan keterampilan menyusun jawaban, menyampaikan pengalaman, atau menghadapi situasi wawancara.
Karena itu, penilaian terhadap diri sendiri perlu dilakukan secara lebih spesifik. Pertanyaan seperti “Bagian mana yang belum saya kuasai?”, “Keterampilan apa yang perlu saya pelajari?”, dan “Pengalaman apa yang dapat membantu saya berkembang?” jauh lebih konstruktif dibandingkan kesimpulan umum bahwa diri sendiri tidak mampu.
Dalam konteks kehidupan generasi muda, efikasi diri dapat terlihat dalam berbagai situasi. Mahasiswa yang yakin mampu menyampaikan gagasan dalam diskusi, lulusan baru yang percaya diri menjelaskan pengalaman organisasi saat wawancara, atau pemuda yang berani memulai usaha berdasarkan keterampilan yang telah dipelajarinya merupakan contoh keyakinan terhadap kemampuan diri.
Namun, perlu dipahami bahwa efikasi diri berbeda dari keyakinan bahwa seseorang pasti memperoleh hasil yang diinginkan. Seseorang dapat memiliki kemampuan untuk mengikuti seleksi pekerjaan dengan baik, tetapi keputusan penerimaan tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor di luar kendalinya.
Dengan demikian, membangun efikasi diri bukan berarti menjamin keberhasilan dalam setiap keadaan. Efikasi diri membantu seseorang menilai kemampuan untuk bertindak, mempersiapkan diri, dan menghadapi tantangan secara lebih terarah.
Mengenali Keraguan tanpa Menghakimi Diri Sendiri
Langkah awal membangun keyakinan diri adalah mengenali sumber keraguan secara jujur. Keraguan tidak selalu muncul karena seseorang tidak memiliki kemampuan. Dalam beberapa keadaan, keraguan justru timbul karena kurangnya pengalaman, minimnya informasi, belum tersedianya dukungan, atau adanya hambatan nyata dalam lingkungan kehidupan.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa diminta mempresentasikan tugas di depan kelas. Ia merasa tidak mampu karena takut salah berbicara. Setelah ditelusuri, ternyata ia memahami materi yang disampaikan, tetapi belum terbiasa menjelaskan gagasan tanpa membaca seluruh tulisan pada layar.
Persoalan yang dihadapi mahasiswa tersebut bukan berarti tidak memiliki kemampuan akademik. Ia hanya membutuhkan latihan berbicara, penyusunan materi yang lebih sederhana, serta kesempatan untuk membangun pengalaman secara bertahap.
Situasi berbeda dapat dialami seseorang yang menghadapi keterbatasan biaya pendidikan, akses pelatihan, waktu, atau tanggung jawab keluarga. Dalam keadaan demikian, persoalan tidak cukup diselesaikan hanya dengan mendorong seseorang agar lebih percaya diri. Ia juga membutuhkan dukungan sosial, kesempatan belajar, dan lingkungan yang memungkinkan kemampuannya berkembang.
Oleh sebab itu, mengenali keraguan harus dilakukan tanpa menghakimi diri sendiri maupun orang lain. Rasa gugup, takut gagal, dan ketidakpastian merupakan bagian dari pengalaman manusia. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memahami penyebabnya dan menentukan langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
2. Membangun Keyakinan Diri melalui Pengalaman dan Dukungan
Efikasi diri tidak terbentuk secara tiba-tiba. Keyakinan terhadap kemampuan diri dapat berkembang melalui pengalaman, pembelajaran, pengamatan terhadap orang lain, dukungan sosial, serta cara seseorang memahami kondisi fisik dan emosionalnya.
Usher et al. (2023) menjelaskan pentingnya berbagai sumber informasi efikasi diri dalam proses pendidikan dan pengembangan kemampuan, termasuk pengalaman menguasai tugas, pembelajaran melalui model atau teladan, pesan dan dukungan sosial, serta keadaan emosional dan fisik.
Keempat sumber tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan generasi muda melalui beberapa langkah berikut.
a. Membangun Pengalaman Berhasil melalui Latihan Bertahap
Pengalaman melakukan dan menyelesaikan suatu tugas menjadi salah satu sumber penting dalam membangun keyakinan terhadap kemampuan diri.
Seseorang yang ingin meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum, misalnya, tidak harus langsung memulai dengan berbicara selama dua puluh menit di hadapan banyak orang. Ia dapat memulainya dengan menjelaskan satu gagasan selama satu menit berdasarkan topik yang sudah dipahami.
Setelah itu, hasil latihan dapat dievaluasi dengan memperhatikan beberapa hal: apakah gagasan sudah tersampaikan dengan jelas, apakah penjelasan dapat diselesaikan, dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.
Ketika kemampuan mulai berkembang, tantangan dapat ditingkatkan secara bertahap. Durasi berbicara dapat diperpanjang, jumlah pendengar dapat ditambah, dan materi yang disampaikan dapat dibuat lebih kompleks.
Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam persiapan memasuki dunia kerja. Seseorang yang belum memiliki pengalaman wawancara dapat memulai dengan menyusun daftar pengalaman organisasi, kegiatan akademik, atau keterampilan yang relevan. Selanjutnya, ia dapat berlatih menjelaskan pengalaman tersebut secara runtut dan jujur.
Hal penting dalam proses ini adalah mencatat perkembangan secara konkret. Misalnya, seseorang dapat menuliskan bahwa dirinya sudah mampu memperkenalkan diri tanpa membaca teks atau sudah dapat menjelaskan pengalaman organisasi selama dua menit.
Catatan sederhana tersebut membantu seseorang mengenali perkembangan yang telah dicapai. Penilaian diri tidak lagi hanya didasarkan pada perasaan berhasil atau gagal, tetapi juga pada bukti nyata dari proses belajar.
Penelitian Chen et al. (2023) terhadap mahasiswa teknik di dua universitas Amerika Serikat menunjukkan bahwa pengalaman menguasai tugas memiliki peran menonjol dalam pembentukan efikasi diri. Pengalaman sosial dan emosional juga muncul dalam proses tersebut. Meskipun penelitian ini berada dalam konteks pendidikan teknik tertentu, temuannya memberikan gambaran mengenai pentingnya pengalaman belajar dalam mengembangkan keyakinan terhadap kemampuan diri.
b. Belajar dari Pengalaman dan Keteladanan Orang Lain
Selain melalui pengalaman pribadi, keyakinan diri dapat dikembangkan dengan mengamati pengalaman orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, generasi muda dapat belajar dari teman, dosen, mentor, tokoh masyarakat, maupun orang-orang yang memiliki pengalaman dalam bidang tertentu.
Misalnya, seseorang yang sedang mempersiapkan wawancara kerja dapat belajar dari teman yang sebelumnya telah mengikuti proses seleksi. Ia dapat mencari tahu bagaimana temannya menyusun jawaban, menjelaskan pengalaman, mempersiapkan dokumen, dan menghadapi pertanyaan yang sulit.
Belajar dari orang lain bukan berarti harus meniru seluruh perjalanan hidupnya. Setiap individu memiliki latar belakang, kemampuan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda. Hal yang perlu diperhatikan adalah keterampilan dan strategi yang dapat dipelajari serta disesuaikan dengan keadaan diri sendiri.
Keteladanan juga perlu dipilih secara relevan. Seseorang yang ingin belajar berbicara di depan umum sebaiknya mengamati orang yang memiliki keterampilan komunikasi baik. Sementara itu, seseorang yang ingin membangun usaha dapat belajar dari pelaku usaha yang memiliki pengalaman sesuai dengan bidang yang diminatinya.
Dalam proses tersebut, sikap menghargai dan kesediaan untuk belajar perlu dikedepankan. Meminta bimbingan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran bahwa pengembangan kemampuan membutuhkan proses dan keterlibatan orang lain.
c. Membangun Dukungan Sosial melalui Masukan yang Konstruktif
Lingkungan sosial memiliki peran penting dalam perkembangan keyakinan diri. Keluarga, teman, dosen, dan lingkungan organisasi dapat menjadi sumber dukungan yang membantu seseorang mengenali potensi dan memperbaiki kekurangan.
Namun, dukungan sosial tidak cukup hanya berupa kalimat penyemangat. Dukungan yang baik seharusnya disertai masukan yang jelas, jujur, dan dapat diterapkan.
Ketika seorang mahasiswa sedang mempersiapkan presentasi, misalnya, teman yang memberikan dukungan dapat menyampaikan bahwa urutan penjelasannya sudah baik, tetapi contoh yang digunakan masih perlu diperjelas.
Masukan seperti ini lebih bermanfaat karena menunjukkan kemampuan yang sudah dimiliki sekaligus memberikan arah perbaikan.
Sebaliknya, komentar yang merendahkan, membandingkan secara tidak proporsional, atau memberikan penilaian tanpa dasar dapat melemahkan semangat seseorang. Karena itu, generasi muda perlu belajar memilih lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan mampu memberikan kritik secara sehat.
Di sisi lain, setiap individu juga perlu belajar menerima masukan. Pertanyaan seperti “Apakah penjelasan saya sudah mudah dipahami?” atau “Bagian mana yang perlu saya perbaiki?” dapat membantu memperoleh evaluasi yang lebih objektif.
Dukungan sosial juga tidak harus selalu berbentuk bantuan besar. Menemani teman berlatih, membagikan informasi pelatihan, membantu memahami tugas, atau memberikan waktu untuk mendengarkan merupakan bentuk dukungan sederhana yang memiliki manfaat nyata.
d. Mengelola Kondisi Fisik dan Emosional
Sumber lain yang perlu diperhatikan dalam membangun efikasi diri adalah keadaan tubuh dan emosi.
Rasa gugup, tegang, lelah, atau cemas dapat memengaruhi cara seseorang menilai kemampuannya. Ketika menghadapi wawancara kerja, misalnya, seseorang mungkin merasakan tangan dingin, jantung berdebar, atau kesulitan menyusun kalimat.
Kondisi tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa dirinya tidak mampu. Bisa jadi, ia sedang menghadapi situasi penting yang belum terbiasa dijalani.
Karena itu, penting untuk mengenali keadaan emosional secara tepat. Seseorang dapat mengatakan kepada dirinya sendiri, “Saya sedang gugup karena menghadapi sesuatu yang penting, tetapi saya sudah mempersiapkan diri dan dapat memulai dengan menjelaskan satu hal terlebih dahulu.”
Selain itu, persiapan yang baik perlu disertai pengaturan waktu, istirahat yang cukup, pengenalan terhadap situasi yang akan dihadapi, dan latihan dalam suasana yang lebih nyaman.
Dalam kehidupan seorang Muslim, doa dan zikir dapat menjadi bagian dari penghayatan spiritual ketika menghadapi tantangan. Namun, keduanya tetap berjalan bersama usaha nyata, persiapan keterampilan, dan pencarian bantuan ketika dibutuhkan.
Dengan demikian, pengembangan keyakinan diri tidak hanya berkaitan dengan pikiran positif, tetapi juga membutuhkan latihan, dukungan, pengelolaan emosi, dan kondisi lingkungan yang mendukung.
3. Ikhtiar dan Tawakal sebagai Landasan Spiritual dalam Membangun Keyakinan Diri
Dalam perspektif Islam, keberanian untuk berusaha merupakan bagian penting dari tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan. Islam mengajarkan bahwa manusia tidak seharusnya menyerah pada keadaan, tetapi diperintahkan untuk berusaha, berdoa, dan memohon pertolongan Allah Swt.
Salah satu landasan penting mengenai hal tersebut terdapat dalam hadis riwayat Muslim nomor 2664. Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw. memberikan anjuran agar seorang Muslim bersungguh-sungguh terhadap sesuatu yang bermanfaat, memohon pertolongan Allah, dan tidak menyerah.
Hadis ini memberikan pemahaman bahwa usaha dan ketergantungan kepada pertolongan Allah bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru berjalan bersama dalam kehidupan seorang Muslim.
Dalam penerapannya, seseorang yang ingin memperoleh pekerjaan perlu mempelajari persyaratan lowongan, meningkatkan keterampilan, menyiapkan dokumen, dan mengikuti proses seleksi dengan baik. Ia juga perlu menjaga kejujuran, tidak memalsukan pengalaman, serta tidak merugikan orang lain demi memperoleh keuntungan pribadi.
Demikian pula mahasiswa yang ingin memperoleh prestasi akademik perlu belajar secara konsisten, mengikuti perkuliahan, mencari referensi, berdiskusi, dan meminta bimbingan ketika mengalami kesulitan.
Tawakal setelah Mengambil Keputusan dan Berusaha
Salah satu ayat yang memberikan tuntunan mengenai ikhtiar dan tawakal terdapat dalam QS. Ali ‘Imran [3]:159.
Allah Swt. berfirman:
“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa setelah seseorang mempertimbangkan persoalan, bermusyawarah, dan membulatkan tekad, ia diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah Swt.
Dalam konteks kehidupan generasi muda, ayat ini dapat dipahami sebagai dorongan untuk mengambil keputusan secara matang, mempersiapkan diri, menjalankan usaha, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Tawakal bukan berarti menunggu keberhasilan tanpa melakukan usaha. Tawakal juga bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, tawakal merupakan sikap bersandar kepada Allah setelah dan selama menjalankan ikhtiar sesuai kemampuan.
Sebagai contoh, seseorang yang mengikuti seleksi pekerjaan memiliki sejumlah hal yang dapat diupayakan, seperti memilih lowongan yang sesuai, menyiapkan dokumen secara jujur, meningkatkan keterampilan, dan mengikuti tahapan seleksi dengan sungguh-sungguh.
Namun, ada pula hal-hal yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya, seperti jumlah pelamar, kebutuhan perusahaan, dan keputusan pihak penyeleksi.
Pembedaan antara hal yang dapat diusahakan dan hal yang berada di luar kendali membantu seseorang menjalani proses dengan lebih proporsional. Ia tetap bertanggung jawab atas kualitas persiapan, tetapi tidak harus menyalahkan dirinya sendiri atas seluruh hasil yang tidak sesuai harapan.
Memaknai Kegagalan sebagai Bagian dari Proses Kehidupan
Dalam perjalanan mengembangkan kemampuan diri, kegagalan merupakan salah satu kemungkinan yang tidak dapat dihindari. Tidak semua usaha menghasilkan sesuatu sesuai dengan harapan. Ada seseorang yang sudah belajar dengan sungguh-sungguh tetapi belum memperoleh hasil akademik yang diinginkan. Ada lulusan yang telah mengikuti beberapa wawancara tetapi belum mendapatkan pekerjaan. Ada pula pemuda yang sudah mencoba membangun usaha, tetapi harus menghadapi kerugian.
Dalam keadaan demikian, penting untuk memahami QS. An-Najm [53]:39–41 yang menjelaskan bahwa manusia memperoleh sesuai dengan apa yang telah diusahakannya dan bahwa usaha tersebut akan diperlihatkan serta diberikan balasan.
Ayat ini menegaskan pentingnya tanggung jawab terhadap usaha dan amal. Namun, ayat tersebut perlu dipahami dalam konteksnya dan tidak boleh disederhanakan menjadi janji bahwa setiap target duniawi pasti tercapai persis seperti yang diinginkan seseorang.
Karena itu, ketika mengalami kegagalan, langkah yang lebih bijak adalah melakukan evaluasi secara objektif. Jika seseorang gagal dalam seleksi administrasi, ia dapat memeriksa kembali kesesuaian dokumen dan persyaratan. Jika belum berhasil dalam wawancara, ia dapat mengevaluasi cara menjelaskan pengalaman dan pemahaman terhadap pekerjaan yang dilamar.
Apabila tidak tersedia umpan balik dari pihak penyelenggara seleksi, seseorang sebaiknya tidak langsung membuat kesimpulan negatif tentang dirinya. Ia tetap dapat memperbaiki kemampuan yang memang perlu dikembangkan dan mempertimbangkan kesempatan lain.
Kegagalan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Namun, ketekunan juga tidak berarti harus mengulang strategi yang sama tanpa evaluasi. Seseorang perlu memiliki keberanian untuk memperbaiki cara, menyesuaikan tujuan, dan mencari pendekatan yang lebih sesuai dengan keadaan.
Di sinilah ikhtiar dan tawakal menemukan relevansinya. Ikhtiar mengajarkan kesungguhan dalam menjalankan tanggung jawab, sedangkan tawakal mengajarkan keteguhan hati dalam menghadapi hasil yang tidak selalu dapat dikendalikan.
4. Menghadapi Tekanan Sosial dan Budaya Perbandingan di Media Sosial
Salah satu tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini adalah kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan kehidupan orang lain, terutama melalui media sosial.
Setiap hari, seseorang dapat melihat teman yang memperoleh pekerjaan baru, melanjutkan pendidikan, mendapatkan beasiswa, membangun usaha, atau mencapai keberhasilan tertentu. Informasi tersebut sering kali ditampilkan dalam bentuk yang menarik dan memperlihatkan sisi terbaik kehidupan seseorang.
Dalam kondisi tertentu, paparan tersebut dapat memunculkan pertanyaan dalam diri, seperti “Mengapa saya belum berhasil?”, “Mengapa teman-teman saya sudah memiliki pekerjaan?”, atau “Mengapa kehidupan saya belum mengalami perkembangan?”
Persoalannya, seseorang sering membandingkan kehidupannya secara menyeluruh dengan potongan pengalaman orang lain yang ditampilkan di media sosial. Padahal, tidak semua informasi mengenai proses, kesulitan, dukungan, dan pengorbanan orang tersebut diketahui.
Karena itu, pencapaian orang lain sebaiknya tidak selalu dipandang sebagai ukuran kegagalan diri sendiri. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran apabila disikapi secara tepat.
Ketika melihat seseorang berhasil memperoleh pekerjaan, misalnya, kita dapat mencari tahu keterampilan yang dimilikinya, cara mempersiapkan diri, atau pengalaman yang dapat dijadikan pembelajaran.
Namun, apabila penggunaan media sosial justru membuat seseorang terus membandingkan diri dan mengabaikan tanggung jawabnya, pengaturan waktu penggunaan media sosial menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan.
Selain itu, membangun rasa syukur terhadap kesempatan yang dimiliki juga penting. Kesempatan untuk belajar, memiliki teman yang bersedia membantu, memperoleh akses informasi, atau mempunyai waktu untuk memperbaiki kemampuan merupakan hal-hal yang dapat dimanfaatkan sebagai modal pengembangan diri.
Dengan demikian, generasi muda perlu mengembangkan sikap yang seimbang: menghargai keberhasilan orang lain, belajar dari pengalaman mereka, tetapi tetap fokus pada proses dan tanggung jawab masing-masing.
5. Dari Keraguan Menuju Keberanian Bertindak: Sebuah Ilustrasi
Untuk memahami bagaimana efikasi diri, ikhtiar, dan tawakal dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, berikut sebuah ilustrasi mengenai seorang lulusan baru bernama Rani.
Rani merupakan lulusan perguruan tinggi yang menemukan lowongan pekerjaan sesuai dengan bidang pendidikannya. Namun, ia terus menunda mengirimkan lamaran karena merasa belum memiliki pengalaman kerja yang cukup. Ia membayangkan dirinya akan gagal ketika menghadapi wawancara.
Setelah mencoba memahami sumber keraguannya, Rani menyadari bahwa dirinya sebenarnya memiliki pengalaman organisasi selama kuliah. Persoalannya, ia belum mengetahui bagaimana menjelaskan pengalaman tersebut secara runtut dan relevan dengan pekerjaan yang dilamar.
Rani kemudian menetapkan sasaran yang lebih sederhana, yaitu belajar menceritakan satu pengalaman organisasi secara jelas.
Pada tahap pertama, ia memilih satu kegiatan yang pernah diikuti dan mencatat tanggung jawab yang dijalankan. Ia menjelaskan persoalan yang dihadapi, tindakan yang dilakukan, serta hasil yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Pada tahap berikutnya, ia mencoba menjelaskan pengalaman tersebut selama dua menit. Awalnya, penjelasannya masih berputar-putar. Ia kemudian meminta seorang teman untuk mendengarkan dan memberikan masukan mengenai bagian yang belum jelas.
Setelah beberapa kali berlatih, penjelasan Rani menjadi lebih terarah. Ia mulai mengenali kemampuan yang sudah dimiliki dan bagian yang masih membutuhkan perbaikan.
Sebelum mengirimkan lamaran, Rani memeriksa kembali persyaratan pekerjaan, memperbaiki dokumen, dan mempersiapkan diri. Ia juga berdoa serta meminta pertimbangan kepada orang yang lebih berpengalaman.
Rani belum dapat memastikan apakah dirinya akan diterima. Namun, ia telah melakukan langkah-langkah yang berada dalam kendalinya.
Jika kemudian dinyatakan lolos, ia bersyukur dan berusaha menjalankan tanggung jawab pekerjaan dengan baik. Jika belum berhasil, ia tetap mempunyai bahan untuk mengevaluasi persiapan, memperbaiki kemampuan, dan mencari kesempatan lain.
Ilustrasi tersebut memperlihatkan bahwa keberanian tidak selalu dimulai dari keyakinan yang besar. Terkadang, keberanian justru tumbuh ketika seseorang mulai mengenali masalah, menentukan langkah sederhana, memperoleh pengalaman, dan bersedia memperbaiki diri.
Hal yang sama dapat diterapkan oleh mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan, pemuda dalam organisasi, maupun individu yang sedang memulai tanggung jawab baru.
6. Langkah Praktis Mengembangkan Keyakinan Diri bagi Generasi Z
Membangun keyakinan diri membutuhkan proses yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, generasi muda perlu memiliki kebiasaan yang membantu mengembangkan kemampuan sekaligus menjaga keseimbangan antara usaha dan kehidupan spiritual.
Beberapa langkah berikut dapat dijadikan pedoman praktis.
Pertama, menentukan tujuan secara spesifik.
Seseorang perlu mengetahui hal yang ingin dicapai. Tujuan yang terlalu umum sering kali sulit diterjemahkan menjadi tindakan. Daripada hanya mengatakan ingin menjadi lebih percaya diri, seseorang dapat menetapkan tujuan untuk berani menyampaikan satu pendapat dalam diskusi atau mampu memperkenalkan diri selama dua menit.
Kedua, mengenali kemampuan dan kekurangan secara objektif.
Setiap individu perlu mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki dan bagian yang masih membutuhkan pengembangan. Penilaian tersebut harus didasarkan pada pengalaman dan bukti, bukan semata-mata perasaan atau perbandingan dengan orang lain.
Ketiga, memulai dari langkah yang dapat dilakukan.
Tugas yang terasa berat dapat dibagi menjadi beberapa bagian sederhana. Latihan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan pengalaman dan informasi mengenai perkembangan kemampuan diri.
Keempat, mencari lingkungan yang mendukung.
Dukungan teman, keluarga, dosen, mentor, dan komunitas dapat membantu seseorang menghadapi kesulitan. Jangan ragu meminta bantuan kepada orang yang memiliki pengalaman atau kompetensi yang relevan.
Kelima, menerima kritik dan melakukan evaluasi.
Kritik yang disampaikan secara konstruktif dapat digunakan untuk memperbaiki kemampuan. Namun, komentar yang merendahkan tanpa dasar tidak harus dijadikan ukuran untuk menilai seluruh diri seseorang.
Keenam, mengelola emosi dan menjaga kesehatan diri.
Istirahat, pengaturan waktu, persiapan yang cukup, dan kemampuan mengenali kondisi emosional merupakan bagian penting dalam proses pengembangan diri.
Ketujuh, menjaga niat, berdoa, dan bertawakal.
Usaha perlu disertai niat yang baik dan cara yang benar. Seseorang hendaknya menggunakan kemampuan untuk tujuan yang bermanfaat, tidak merugikan orang lain, serta senantiasa memohon pertolongan Allah Swt.
7. Refleksi Diri: Satu Langkah untuk Memulai Perubahan
Setelah memahami konsep efikasi diri, ikhtiar, dan tawakal, setiap individu perlu melakukan refleksi terhadap kehidupannya sendiri.
Refleksi dapat dimulai dengan mengajukan tiga pertanyaan sederhana.
- Apa hal yang ingin saya lakukan, tetapi masih saya tunda karena merasa belum mampu?
Pertanyaan ini membantu mengenali tujuan atau kesempatan yang selama ini belum berani diambil.
- Kemampuan apa yang sebenarnya sudah saya miliki dan bagian mana yang masih perlu dikembangkan?
Pertanyaan ini membantu membedakan kemampuan yang sudah dikuasai dengan keterampilan yang masih membutuhkan latihan.
- Apa langkah konkret yang dapat saya lakukan dan kapan saya akan memulainya?
Pertanyaan ini mengarahkan refleksi menjadi tindakan nyata. Langkah tersebut dapat berupa memperbaiki dokumen lamaran, berlatih berbicara, mencari informasi pelatihan, meminta masukan, atau memulai kegiatan yang selama ini tertunda.
Refleksi tersebut tidak harus menghasilkan perubahan besar dalam waktu singkat. Hal yang lebih penting adalah adanya kesadaran untuk bergerak, mengevaluasi perkembangan, dan mempertahankan usaha sesuai kemampuan.
Penutup
Generasi Z memiliki potensi besar untuk mengambil peran dalam kehidupan masyarakat, dunia pendidikan, dunia kerja, dan pembangunan bangsa. Namun, potensi tersebut membutuhkan keberanian untuk dikembangkan dan kesempatan untuk diwujudkan melalui tindakan nyata.
Keraguan, ketakutan, dan kegagalan merupakan bagian dari perjalanan kehidupan yang dapat dialami siapa saja. Persoalannya bukan bagaimana menghilangkan seluruh rasa takut, melainkan bagaimana mengenali sumber keraguan, mengembangkan kemampuan, dan tetap berani mengambil langkah yang bertanggung jawab.
Melalui konsep self-efficacy yang dikembangkan Albert Bandura, kita memahami bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri dapat tumbuh melalui pengalaman, keteladanan, dukungan sosial, serta pengelolaan kondisi fisik dan emosional. Keyakinan tersebut bukan sesuatu yang harus hadir secara sempurna sebelum seseorang bertindak, melainkan dapat berkembang seiring dengan proses belajar dan pengalaman.
Dalam perspektif Islam, proses tersebut memperoleh landasan spiritual melalui nilai ikhtiar dan tawakal. Seorang Muslim diperintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, memohon pertolongan Allah, dan tidak mudah menyerah. Setelah mempertimbangkan dan membulatkan tekad, manusia diajarkan untuk bertawakal kepada-Nya.
QS. Al-Insyirah [94]:5–6 memberikan pengingat bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Pesan tersebut dapat menjadi sumber harapan agar manusia tidak mudah kehilangan semangat ketika menghadapi persoalan. Harapan perlu disertai usaha, kesediaan belajar, dan keberanian mencari jalan keluar.
Pada akhirnya, membangun keyakinan diri bukan tentang menjadi seseorang yang tidak pernah takut, tidak pernah gagal, atau selalu merasa lebih unggul daripada orang lain. Keyakinan diri adalah kemampuan mengenali potensi, menyadari keterbatasan, berani belajar, dan bertanggung jawab terhadap setiap langkah yang diambil.
Generasi Z tidak harus menunggu sampai merasa sepenuhnya siap untuk memulai sesuatu yang baik. Mulailah dari kemampuan yang dimiliki, kembangkan secara bertahap, perbaiki kekurangan, dan jangan ragu meminta pertolongan.
Berani melangkah bukan berarti memastikan bahwa seluruh perjalanan akan berjalan sesuai keinginan. Berani melangkah berarti bersedia berusaha dengan sungguh-sungguh, belajar dari setiap proses, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Swt.
Semoga generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berdaya, berakhlak, memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri, serta senantiasa menjadikan ikhtiar dan tawakal sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Daftar Pustaka dan Sumber Dalil
1. Bandura, A. (2006). Guide for constructing self-efficacy scales. In F. Pajares & T. Urdan (Eds.), Self-efficacy beliefs of adolescents (pp. 307–337). Information Age Publishing.
https://bpb-us-e1.wpmucdn.com/websites.uta.edu/dist/1/4994/files/2021/07/Guide-for-Constructing-Self-Efficacy-Scales-Bandura2006.pdf
2. Chen, X.-Y., Usher, E. L., Roeder, M., Johnson, A. R., Kennedy, M. S., & Mamaril, N. A. (2023). Mastery, models, messengers, and mixed emotions: Examining the development of engineering self-efficacy by gender. Journal of Engineering Education, 112(1), 64–89.
https://doi.org/10.1002/jee.20494
3. Usher, E. L., Butz, A. R., Chen, X.-Y., Ford, C. J., Han, J., Mamaril, N. A., Morris, D. B., Peura, P., & Piercey, R. R. (2023). Supporting self-efficacy development from primary school to the professions: A guide for educators. Theory Into Practice, 62(3), 266–278.
https://doi.org/10.1080/00405841.2023.2226559
4. Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Ali ‘Imran. Bimas Islam.
https://bimasislam.kemenag.go.id/en/al-quran/3
5. Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). An-Najm. Bimas Islam.
https://bimasislam.kemenag.go.id/al-quran/53
6. Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Asy-Syarh. Bimas Islam.
https://bimasislam.kemenag.go.id/al-quran/94
7. Sunnah.com. (n.d.). Sahih Muslim 2664.
https://sunnah.com/muslim:2664



