
HUJAN DALAM SASTRA PUISI BANJAR
Oleh; Khalilah Nur ‘Azmy
Musim kamarau satahun landang,
Satahun landang manunggu hujan
Anak burung anak kijang
Turun ka datar mancari makan.
Potongan puisi “Amas Salaka” oleh Artum Artha (M. Chusrien), 1982.
Setelah kemarau panjang, asap, hingga kebakaran, hujan akhirnya turun. Momen-momen awal turunnya hujan tentu diperhatikan oleh banyak orang. Ia seperti tamu yang sudah lama dikenal, tetapi lama tak bersua. Kehadirannya dinantikan, tetapi ketika hujan tinggal lebih lama, kita mulai terbiasa dengannya hingga perlahan-lahan kehilangan kepekaan terhadap maknanya. Puisi di atas tampak sederhana, tetapi menyimpan makna yang mendalam. Ia menggambarkan kemarau panjang dan kedatangan hujan yang memungkinkan makhluk hidup kembali memperoleh penghidupan.
Sastra, baik dalam bentuk pantun, syair, maupun puisi, kerap memaknai alam, termasuk hujan, melalui lapisan-lapisan makna. Dari sisi ekologis, hujan dapat bercerita tentang pasang surut kehidupan dan banyu yang membawa penghidupan. Dari sisi religius, hujan dapat menjadi metafora syukur dan kuasa Tuhan. Hujan juga kerap digunakan untuk membangun latar kehidupan manusia. Bunyi air ketika menyentuh bumi, misalnya, sering dipadukan dengan suasana romantis dan melankolis.
Dalam konteks sastra lokal Banjar, khususnya karya-karya yang terbit pada paruh kedua abad ke-20, gambaran hujan dapat ditelusuri melalui puisi dua sastrawan daerah, yaitu Hijaz Yamani (1933–2001) dan M. Chusrien, yang dikenal dengan nama pena Artum Artha (1920–2002). Keduanya merupakan sastrawan Banjar abad ke-20 yang menerbitkan kumpulan puisi dan membuka ruang untuk memahami bagaimana fenomena alam direpresentasikan dalam sastra daerah. Keduanya juga memiliki latar kebudayaan lokal yang kuat dan terlibat dalam kehidupan politik pada masanya. Selain berasal dari generasi yang berdekatan, keduanya terhubung melalui puisi: Hijaz Yamani, misalnya, pernah menulis puisi yang ditujukan kepada Artum Artha.
Hujan dalam Puisi Hijaz Yamani
Hijaz Yamani menerbitkan kumpulan puisinya yang berjudul Malam Hujan. Kumpulan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Di Bawah Lampu Mercuri (35 puisi), Kalau Kau Datang (46 puisi), dan Lanskap Sungai (48 puisi). Pada bagian awal puisi “Malam Hujan”, Hijaz Yamani menulis:
Kau apakan
uap dingin
meluap di deras hujan
Dan ketika kita makin dekat
berduaan
di malam hujan?
Dalam bait tersebut, hujan dipadukan dengan suasana romantis dan melankolis. Ia menjadi latar bagi dua orang yang berdekatan pada malam hari. Namun, puisi Hijaz Yamani tentu dapat dimaknai lebih jauh daripada sekadar suasana intim di antara dua manusia. Bait akhirnya membantu kita menyelami hubungan antara hujan dan elemen-elemen alam lainnya. Ia menulis:
Kau dengar
bunyi tik tak tik tak …
terus memasuki bumi
Dan lagu mars perjalanan
dibawa angin
makin jauh
makin jauh
ke laut yang menggelora
Dalam bait tersebut, hujan terhubung dengan bumi, angin, dan laut. Rangkaian elemen alam ini menghadirkan gambaran tentang perjalanan air sekaligus membuka ruang bagi penafsiran yang lebih luas. Hujan yang “terus memasuki bumi” dapat dibaca sebagai gambaran masuknya kehidupan ke dalam tanah. Sementara itu, frasa “lagu mars perjalanan” menghadirkan kesan bahwa perjalanan tersebut memiliki irama dan gerak tersendiri. Angin membawa lagu itu semakin jauh, menuju laut yang menggelora.
Laut yang menggelora menjadi penutup yang dramatis. Hujan tidak berhenti pada peristiwa turunnya air dari langit, tetapi terhubung dengan rangkaian proses alam yang lebih luas. Air yang jatuh ke bumi dapat meresap ke dalam tanah, mengalir, dan pada akhirnya mencapai laut. Dengan demikian, hujan dalam puisi ini dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan alam yang tidak sederhana. Peristiwa yang tampak biasa, seperti turunnya hujan, ternyata dapat membuka pemahaman tentang hubungan antarelemen alam.
Aspek religius dalam puisi Hijaz Yamani juga dapat ditelusuri melalui puisinya yang berjudul “Tentu Tak Bisa Kubilang Berapa Titik Hujan Memberi Kedalaman Dasar Samudera”. Ia menulis:
Tentu tak bisa kubilang berapa dalam lubuk hati-Mu
Tangan-Mu memberi ruang
Mulut-Mu meniup berbilang hinak
sejak Adam
Tentu tak bisa kubilang
Bagaimana aku mengatakan
Ketidaktahuanku
yang sudah makin dalam tenggelam
di samudera kehidupan
Judul puisi ini telah memberi petunjuk tentang arah perenungannya. Hijaz menggambarkan keterbatasan manusia dalam memahami kedalaman dan keluasan kuasa Tuhan. Pertanyaan tentang jumlah titik hujan yang memberi kedalaman kepada samudera dapat dibaca sebagai gambaran tentang sesuatu yang kecil, tetapi terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih besar.
Dalam puisi ini, laut atau samudera kembali menjadi gambaran yang penting. Hujan dapat dimaknai sebagai titik-titik kecil yang terhimpun dalam keluasan samudera. Sebagai penafsiran, gambaran tersebut juga dapat mengingatkan kita pada pengetahuan manusia yang terbatas di hadapan keluasan pengetahuan Tuhan. Ketidakmampuan penyair untuk mengatakan atau mengukur kedalaman itu justru menjadi bagian dari perenungannya.
Dalam puisi-puisi yang bernuansa sufistik, ungkapan seperti tenggelam atau terbakar dapat menggambarkan kefanaan manusia di hadapan Sang Pencipta. Meskipun demikian, pemaknaan semacam ini perlu dibaca dengan memperhatikan konteks setiap puisi. Dalam puisi-puisi Hijaz Yamani yang dibahas di sini, hujan dapat menjadi titik awal perenungan: sebuah fenomena alam yang mengarahkan manusia untuk mencari makna yang lebih dalam dan lebih luas, termasuk makna religius tentang Tuhan dan keterbatasan manusia.
Hujan dalam Puisi Artum Artha
Jika Hijaz Yamani menulis puisinya dalam bahasa Indonesia melalui antologi Malam Hujan, Artum Artha, dalam Unggunan Puisi Banjar, selain juga menulis beberapa puisi dalam Bahasa Indonesia lebih kental meyisipkan ungkapan dan istilah Banjar. Rangkaian puisinya menghadirkan gambaran yang khas tentang cara masyarakat Banjar memahami dan mengalami alam. Sisipan istilah daerah seperti banih, huma, dan talang banyu, misalnya, membawa kita pada latar kehidupan tradisional masyarakat yang bertani dan hidup di sekitar sungai. Istilah-istilah tersebut berpotensi memberi gambaran tentang pengetahuan lokal yang dapat kita baca kembali dalam konteks kehidupan masyarakat modern.
Seperti dalam puisi Hijaz Yamani, hujan dalam karya Artum Artha juga dapat menjadi latar yang romantis dan melankolis. Hal ini, misalnya, tampak dalam puisi berjudul “Cahaya Dini Hari”. Ia menulis:
Berlalulah hujan gerimis
Kemudian sunyi hilanglah bayang-bayang
Gugurlah hujan rintik-rintik
Dalam rumah tidur sampai dini hari
Tidur dalam mimpi – serasa hidup suami isteri
Dalam puisi tersebut, gerimis dan rintik hujan menghadirkan suasana yang perlahan-lahan berubah menjadi sunyi. Hujan menjadi bagian dari latar yang mengiringi pengalaman manusia, termasuk pengalaman intim yang disampaikan melalui gambaran tidur dan mimpi. Sebagaimana pada puisi Hijaz Yamani, alam tidak berdiri sendiri, tetapi hadir bersama suasana batin manusia.
Selain membangun suasana romantis dan melankolis, puisi Artum Artha juga memperlihatkan hubungan yang lebih dekat antara hujan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar. Hubungan tersebut, misalnya, tampak dalam puisinya yang berjudul “Seorang Perawan”:
Kita berdiam, kita berayun-ayun, ayun apan
Menunggu jemuran padi mayang kuning
Menunggu sampai teduh hujan.
Ayun apan adalah ayunan yang terbuat dari tali dan papan. Menurut Artum, seorang perawan kerap membaca syair atau puisi penglipur lara sambil berayun atau mengayun adiknya yang lebih kecil. Karena itu, ungkapan dalam puisi tersebut seakan-akan menghadirkan percakapan dengan seorang adik, sebagaimana dalam ungkapan “Aduhan adik”. Setelahnya, penyair mengungkapkan perasaan melalui bait-bait berikutnya.
Puisi ini juga memperlihatkan hujan sebagai bagian dari suasana kehidupan rumah tangga. Jemuran padi yang menunggu hujan reda menghadirkan pekerjaan sehari-hari yang bergantung pada keadaan cuaca. Pada saat yang sama, suasana menunggu tersebut memberi ruang bagi seorang perempuan untuk mengungkapkan isi hatinya. Hujan, dengan demikian, bukan sekadar latar alam, melainkan bagian dari pengalaman sosial dan emosional manusia.
Di bagian lain, Artum Artha menghubungkan hujan dengan penghidupan secara lebih langsung. Dalam puisi “Amas Salaka”, ia mula-mula menggambarkan berbagai binatang, dari yang kecil hingga yang besar, yang turun ke dataran untuk mencari makan setelah kemarau panjang. Gambaran ini kemudian beralih pada kehidupan manusia yang juga menjalani rangkaian kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Di sini, Artum menghadirkan secara tidak langsung gambaran tentang pekerjaan masyarakat Banjar. Mereka bertani dan berkebun, menunggu panen padi, serta mendulang emas atau salaka di telaga. Hujan menjadi salah satu fenomena alam yang mengiringi rangkaian penghidupan tersebut. Manusia dan makhluk hidup lainnya sama-sama bergantung pada perubahan alam untuk mencari makan dan mempertahankan kehidupan. Artum menulis:
Musim kamarau satahun landang,
Satahun landang manunggu hujan
Anak burung anak kijang
Turun ka datar mancari makan.
Hilalang dibetnam banih dikatam,
Kacang gumbili tanam panyala.
Sambi! manunggu banih dikatam.
Ka talaga dahulu cari salaka.
Potongan Puisi “Amas Salaka” oleh Artum Artha (M. Chusrien). 1982.
Puisi ini memperlihatkan bahwa hujan memiliki arti yang melampaui fenomena cuaca. Setelah kemarau panjang, kedatangannya berkaitan dengan kesempatan bagi binatang untuk mencari makan dan bagi manusia untuk melanjutkan kegiatan ekonominya. Rangkaian kegiatan bertani, berkebun, menunggu panen, dan mendulang emas menghadirkan gambaran tentang kehidupan yang bergerak mengikuti kondisi alam.
Dengan demikian, hujan dalam puisi Artum Artha tidak hanya hadir sebagai objek pengamatan atau latar perasaan, tetapi juga sebagai bagian dari hubungan antara alam, pekerjaan, dan keberlangsungan hidup masyarakat. Gambaran tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman ekologis masyarakat Banjar dapat tersimpan dalam bahasa dan puisi.
Hujan, Alam, dan Penghidupan dalam Sastra Banjar
Puisi-puisi kedua sastrawan Banjar tersebut tidak hanya memberi gambaran tentang kehidupan manusia dan masyarakat, tetapi juga menghadirkan fenomena alam serta hubungan manusia dengan lingkungannya. Dalam kajian sastra lingkungan, ungkapan-ungkapan puitis dan alegoris semacam ini berpotensi membuka pemahaman yang lebih dalam tentang cara manusia memaknai dan menjalani hubungannya dengan alam.
Setidaknya dalam karya-karya Hijaz Yamani dan Artum Artha yang dibahas di sini, hujan tidak ditempatkan sebagai latar yang kosong. Hujan merupakan bagian dari alur penghidupan dan menjadi salah satu unsur yang menghubungkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Dalam puisi Hijaz Yamani, hujan dapat mengantarkan pembaca pada perenungan tentang perjalanan alam dan keluasan kuasa Tuhan. Sementara itu, dalam puisi Artum Artha, hujan hadir dalam pengalaman sehari-hari masyarakat Banjar, mulai dari suasana rumah tangga hingga pekerjaan bertani dan mendulang emas.
Kedua kecenderungan tersebut tidak sepenuhnya terpisah. Hujan dapat menghadirkan pengalaman personal sekaligus memperlihatkan hubungan yang lebih luas antara manusia dan lingkungannya. Dari rintik-rintik yang jatuh ke bumi hingga air yang mengalir menuju laut, hujan menghubungkan bagian-bagian kecil dalam suatu rangkaian yang lebih besar. Dalam pembacaan ekologis maupun religius, rangkaian ini mengingatkan kita bahwa manusia dan alam tidak berdiri sendiri. Keduanya saling terhubung, dan hubungan tersebut turut membentuk makna kehidupan.
- Bagaimana sastra menggambarkan hubungan manusia, masyarakat dengan lansdscap alam secara emosional, dalam.
- Kecendrungan sastra lokal
- Sastrawan yang sekaligus menjadi tokoh politik memberi kesan bahwa memang mereka permerhati (paling tidak pemerhati budaya) sensitif, dan dikenal masyarakat (karena dulu yang sampai pada masyarakat adalah syair, karya, pidato, bukan budaya visual vidio dll skrg).
(Editor: Humas FUH/Alf)




