
PAPADAAN KADA SEKEDAR PAPADAAN: MERAWAT PERSAUDARAAN URANG BANJAR DALAM CAHAYA ISLAM
Memaknai persaudaraan, merawat kebersamaan, dan membangun akhlak sosial di tengah perbedaan.
Ada satu ungkapan yang cukup akrab dalam kehidupan masyarakat Banjar, yaitu papadaan. Sebuah kata sederhana yang sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Namun, jika direnungkan lebih dalam, papadaan sesungguhnya bukan sekadar istilah kekerabatan, sapaan, atau penanda kedekatan antarsesama urang Banjar. Di dalamnya terkandung cara pandang, identitas, nilai kebersamaan, sekaligus tanggung jawab sosial.
Papadaan mengajarkan bagaimana seseorang memandang orang lain bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai bagian dari lingkungan kehidupan yang memiliki hubungan, keterikatan, dan kepentingan bersama.
Dalam kehidupan masyarakat Banjar, nilai ini tumbuh melalui berbagai kebiasaan sosial: badangsanak, bubuhan, gotong royong, saling mengunjungi, membantu ketika ada musibah, menghadiri hajatan, hingga menjaga hubungan kekeluargaan dan persaudaraan.
Menariknya, nilai-nilai tersebut memiliki ruang perjumpaan yang kuat dengan ajaran Islam. Sebab Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk membangun hubungan persaudaraan, tetapi juga memberikan tuntunan tentang bagaimana persaudaraan itu dijaga melalui kasih sayang, keadilan, kepedulian, saling menghormati, dan akhlak yang baik.
Dengan demikian, papadaan bukan hanya tentang bagaimana kita menyebut orang lain sebagai saudara, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan mereka sebagaimana saudara.
1. Papadaan Bukan Sekadar Sapaan, tetapi Cara Memandang Orang Lain
Dalam kehidupan urang Banjar, kata papadaan mengandung rasa kedekatan. Ada perasaan sama-sama urang, sama-sama badangsanak, sama-sama memiliki kampung halaman, serta berada dalam lingkungan sosial yang saling membutuhkan.
Ketika bertemu seseorang yang sudah dikenal, atau bahkan orang yang belum terlalu akrab tetapi masih berada dalam lingkungan sosial yang sama, kita bisa saja menyapa:
“Papadaan haja pang.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, sesungguhnya ada pesan sosial yang terkandung di dalamnya.
Seolah-olah kita sedang mengatakan:
“Ikam, ulun, kita ini kada urang asing.”
Ada rasa badangsanak. Ada rasa sakampungan. Ada rasa saling mengenal, saling membutuhkan, dan saling menjaga.
Di sinilah papadaan menjadi menarik untuk direnungkan. Sebab sebuah sapaan dapat mencerminkan cara seseorang memandang orang lain.
Namun, Islam mengajarkan sesuatu yang lebih mendalam. Persaudaraan tidak cukup hanya dirasakan, diucapkan, atau ditampilkan sebagai simbol budaya. Persaudaraan harus dibuktikan melalui tindakan nyata.
Ia harus dirawat melalui silaturahmi, kasih sayang, keadilan, tolong-menolong, menjaga lisan, menghormati sesama, dan mendamaikan ketika terjadi perselisihan.
Maka, ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan:
Bagaimana caranya agar hubungan papadaan tetap hidup, bahkan ketika kita berbeda pandangan, berbeda kepentingan, atau sedang menghadapi persoalan?
Sebab persaudaraan yang sesungguhnya justru diuji bukan ketika semuanya berjalan baik, melainkan ketika perbedaan mulai hadir di antara kita.
2. Memahami Makna Papadaan dalam Kehidupan Sosial Urang Banjar
Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa seluruh urang Banjar memiliki perilaku dan pengalaman budaya yang sama. Kebudayaan selalu hidup, berkembang, dan dipraktikkan dengan cara yang beragam.
Namun, dalam pengalaman sosial masyarakat Banjar, kita dapat menemukan sejumlah nilai yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan bersama, antara lain:
-
Badangsanak: memiliki ikatan persaudaraan dan rasa kekeluargaan.
-
Bubuhan: membangun rasa keterikatan dalam kelompok sosial.
-
Handak membantu: memiliki kepedulian terhadap kesulitan orang lain.
-
Gotong royong: bekerja bersama untuk kepentingan masyarakat.
-
Saling mengunjungi: menjaga hubungan kekeluargaan dan silaturahmi.
-
Hadir ketika ada musibah: memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.
-
Menghadiri hajatan: turut mengambil bagian dalam kebahagiaan orang lain.
-
Menghormati orang yang lebih tua: menjaga tata krama dan adab dalam kehidupan sosial.
-
Menjaga nama baik keluarga: memahami bahwa perilaku seseorang juga memiliki konsekuensi sosial bagi lingkungannya.
Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat tidak sepenuhnya dibangun atas kepentingan pribadi. Ada hubungan sosial yang membuat seseorang merasa menjadi bagian dari kehidupan orang lain.
Tetapi, ada satu persoalan yang menarik untuk kita pertanyakan:
Apakah papadaan hanya berlaku ketika kita memiliki kesamaan dan kesepahaman?
Sebab sangat mudah menjadi papadaan ketika seseorang sependapat dengan kita.
“Ikam sepaham lawan ulun.”
Namun, bagaimana ketika pendapat kita berbeda?
Bagaimana ketika pilihan politik berbeda, organisasi berbeda, kepentingan berbeda, atau cara pandang terhadap suatu persoalan tidak sama?
Di sinilah makna papadaan mendapatkan ujian sesungguhnya.
Sebab persaudaraan yang hanya bertahan selama ada kesamaan bukanlah persaudaraan yang kokoh. Persaudaraan yang matang justru mampu menjaga penghormatan meskipun perbedaan tidak dapat dihindari.
3. Papadaan dalam Cahaya Al-Qur’an: Persaudaraan adalah Tanggung Jawab
Islam memberikan landasan yang sangat kuat mengenai persaudaraan melalui firman Allah Swt. dalam QS. Al-Hujurat ayat 10:
QS. Al-Hujurat: 10
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Ada sesuatu yang sangat mendalam dalam ayat ini.
Allah Swt. tidak hanya menyatakan bahwa orang-orang beriman adalah saudara. Akan tetapi, pernyataan tersebut langsung diikuti dengan perintah untuk mendamaikan mereka apabila terjadi perselisihan.
Artinya, persaudaraan dalam Islam bukan sekadar status, melainkan tanggung jawab moral.
Ketika ada dua orang yang berselisih, tugas kita bukan memperbesar persoalan. Ketika ada keluarga yang sedang menghadapi konflik, kewajiban sosial kita bukan menambah cerita yang memperkeruh keadaan.
Jangan sampai ketika mendengar persoalan orang lain, kita justru menjadi orang yang memperpanjang pertengkaran.
Misalnya dengan mengatakan:
“Eh, ikam tahu kada? Ulun ada mendangar kisahnya…”
Lalu cerita itu berpindah dari satu orang ke orang lain, semakin panjang, semakin berkembang, bahkan terkadang jauh dari kenyataan sebenarnya.
Dalam kehidupan modern, perilaku semacam ini dapat terjadi melalui:
-
Meneruskan pesan WhatsApp yang belum jelas kebenarannya.
-
Menyebarkan potongan video tanpa memahami konteks.
-
Mempermalukan orang lain melalui media sosial.
-
Menyebarkan persoalan keluarga kepada publik.
-
Membuat komentar yang merendahkan martabat seseorang.
-
Memperbesar kesalahpahaman melalui informasi yang tidak terverifikasi.
Padahal, QS. Al-Hujurat ayat 11 juga mengajarkan larangan saling merendahkan, mencela, dan memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang buruk.
Maka, kita dapat menarik sebuah pemahaman:
Jika budaya mengajarkan kita bagaimana hidup bersama sebagai papadaan, Al-Qur’an mengajarkan bagaimana menjadi papadaan yang berakhlak.
Persaudaraan tidak boleh berhenti pada rasa kedekatan. Ia harus melahirkan perilaku yang menjaga kehormatan, martabat, dan perasaan orang lain.
4. Papadaan Bukan Berarti Harus Selalu Sepaham
Satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa persaudaraan tidak mensyaratkan kesamaan dalam segala hal.
Dua orang bisa tetap bersaudara meskipun memiliki perbedaan pandangan.
Kita bisa berbeda dalam:
-
Pilihan pekerjaan dan jalan kehidupan.
-
Cara mendidik anak.
-
Pilihan pendidikan.
-
Pendapat dalam kehidupan bermasyarakat.
-
Pilihan organisasi dan komunitas.
-
Pandangan terhadap persoalan sosial.
-
Cara memahami dan menyelesaikan suatu masalah.
Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Bahkan, dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan adalah sesuatu yang tidak mungkin dihindari.
Yang menjadi persoalan bukanlah perbedaannya, melainkan bagaimana kita menyikapinya.
Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi kebencian. Jangan sampai perbedaan pilihan menjadikan kita saling merendahkan. Jangan sampai perbedaan kepentingan membuat hubungan kekeluargaan menjadi rusak.
Papadaan bukan berarti:
“Ikam harus sama lawan ulun.”
Tetapi:
“Walaupun kita kada sama, kita tetap saling menghormati.”
Kita boleh tidak menyetujui pendapat seseorang, tetapi tidak harus merendahkan pribadinya.
Kita boleh mengkritik tindakan seseorang, tetapi tidak harus menghancurkan kehormatannya.
Kita boleh berada di jalan yang berbeda, tetapi tidak harus memutuskan tali persaudaraan.
Inilah kedewasaan dalam kehidupan sosial: mampu mempertahankan prinsip tanpa kehilangan adab, mampu menyampaikan kritik tanpa menghilangkan rasa hormat, serta mampu berbeda tanpa menjadikan orang lain sebagai musuh.
5. Hadis Nabi: Menginginkan Kebaikan bagi Papadaan
Rasulullah saw. memberikan ukuran yang sangat indah tentang kualitas persaudaraan melalui hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” HR. Bukhari dan Muslim
Hadis ini mengajak kita untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi tidak selalu mudah: menempatkan kepentingan dan kebahagiaan orang lain dalam pertimbangan kita.
Kita ingin anak kita mendapatkan pendidikan yang baik.
Kita ingin keluarga kita hidup sehat.
Kita ingin usaha kita berkembang.
Kita ingin kehidupan kita berkecukupan.
Kita ingin dihormati dan diperlakukan dengan baik.
Namun, pertanyaannya:
Apakah kita juga menginginkan hal-hal baik tersebut terjadi kepada papadaan kita?
Ketika tetangga membuka usaha, apakah kita berharap usahanya berkembang atau justru diam-diam mengharapkan kegagalannya?
Ketika anak tetangga memperoleh beasiswa, apakah kita ikut bersyukur atau justru merasa iri?
Ketika seseorang mendapatkan kesempatan yang belum kita miliki, apakah kita mampu mengucapkan:
“Alhamdulillah, mudahan menjadi jalan kebaikan.”
Di sinilah persaudaraan memperoleh ruh keimanan.
Sebab mencintai kebaikan bagi orang lain berarti membebaskan diri dari sikap iri, dengki, dan keinginan untuk melihat orang lain jatuh.
Papadaan yang berlandaskan iman bukan hanya hadir ketika membutuhkan bantuan, tetapi juga mampu ikut bahagia ketika saudaranya mendapatkan keberhasilan.
6. Papadaan dalam Praktik Kehidupan Urang Banjar
Nilai papadaan tidak hanya dapat dipahami melalui teori kebudayaan atau penjelasan agama. Ia justru lebih mudah ditemukan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Ada beberapa tradisi sosial yang memperlihatkan bagaimana persaudaraan itu hidup di tengah masyarakat Banjar.
Pertama, ketika ada kematian.
Ketika seseorang di lingkungan kampung meninggal dunia, masyarakat biasanya berdatangan.
Tidak semuanya memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan almarhum. Bahkan, terkadang ada yang tidak terlalu mengenal keluarganya.
Namun, karena merasa berada dalam satu lingkungan sosial, mereka datang untuk memberikan penghormatan dan membantu keluarga yang sedang berduka.
Ada yang membantu menyiapkan tempat.
Ada yang memasak.
Ada yang mengatur parkir.
Ada yang membantu keperluan pemakaman.
Ada yang membaca Al-Qur’an.
Ada pula yang sekadar datang untuk menyampaikan:
“Sabar haja, mudahan almarhum diampuni Allah.”
Coba kita renungkan.
Tidak semua pertolongan harus berbentuk uang.
Kadang kehadiran adalah pertolongan.
Kadang mendengarkan adalah pertolongan.
Kadang membantu pekerjaan kecil merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti.
Bahkan, terkadang kehadiran seseorang di tengah keluarga yang sedang berduka sudah cukup menjadi penguat bahwa mereka tidak sendirian menghadapi kesedihan.
Kedua, ketika ada hajatan.
Dalam tradisi masyarakat Banjar, perkawinan, aqiqah, batamat Al-Qur’an, dan berbagai acara keluarga lainnya sering melibatkan bantuan dari keluarga besar maupun tetangga.
Ada yang membantu memasak.
Ada yang menyiapkan tempat.
Ada yang menerima tamu.
Ada yang membantu mengatur keperluan acara.
Ada yang membereskan segala sesuatu setelah kegiatan selesai.
Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sebuah keluarga tidak selalu dipandang sebagai urusan keluarga inti semata.
Ada dimensi sosial yang lebih luas, yaitu keinginan untuk turut mengambil bagian dalam kebahagiaan orang lain.
Seolah-olah ada pesan yang ingin disampaikan:
“Kebahagiaan ikam, menjadi kebahagiaan kita jua.”
Di sinilah papadaan tidak hanya hadir sebagai identitas, tetapi tumbuh sebagai praktik solidaritas.
7. Dari Bubuhan Menuju Kepedulian dan Keadilan
Dalam kehidupan masyarakat Banjar, istilah bubuhan juga memiliki kedekatan dengan nilai papadaan.
Bubuhan menggambarkan adanya keterhubungan sosial, rasa memiliki, dan solidaritas di antara orang-orang yang berada dalam satu lingkungan atau kelompok.
Namun, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian.
Jangan sampai rasa kebersamaan hanya melahirkan solidaritas ke dalam, tetapi kehilangan kepedulian terhadap orang lain.
Misalnya:
“Ini bubuhan ulun, jadi ulun harus membela.”
Pertanyaannya, bagaimana jika orang yang kita bela ternyata melakukan kesalahan?
Apakah karena dia keluarga, teman, atau satu kelompok, maka kesalahannya harus dibenarkan?
Di sinilah Islam memberikan prinsip yang lebih luas, yaitu keadilan.
Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 90:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia juga melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.”
Ayat ini mengajarkan bahwa persaudaraan harus berjalan bersama keadilan.
Papadaan bukan berarti membenarkan semua tindakan papadaan.
Kalau saudara kita melakukan kesalahan, bentuk kasih sayang bukan membiarkannya terus melakukan kesalahan. Justru kita perlu mengingatkan dengan cara yang baik.
Bukan dengan mengatakan:
“Ikam memang salah!”
Tetapi dengan pendekatan yang lebih manusiawi:
“Kita ini papadaan. Ulun kada handak ikam salah langkah. Mudahan kita sama-sama bisa memperbaiki.”
Persaudaraan yang matang bukan persaudaraan yang selalu membenarkan, melainkan persaudaraan yang berani mengingatkan tanpa merendahkan.
Membela saudara bukan berarti menutupi kesalahan. Membela saudara juga berarti membantu agar ia tidak terus terjerumus dalam kesalahan.
Solidaritas harus memiliki batas moral, dan batas moral itu adalah keadilan.
8. Menjaga Papadaan di Era Media Sosial
Dahulu, persoalan sosial mungkin hanya beredar dari satu rumah ke rumah lainnya. Perselisihan dapat dibicarakan secara langsung, bahkan terkadang diselesaikan melalui pertemuan keluarga atau tokoh masyarakat.
Sekarang, situasinya berbeda.
Satu kalimat dapat menyebar kepada ribuan orang. Satu unggahan dapat memengaruhi nama baik seseorang. Satu potongan video tanpa konteks dapat memicu kesalahpahaman yang lebih besar.
Karena itu, etika papadaan juga harus hidup dalam ruang digital.
Kita perlu bertanya sebelum membagikan sesuatu tentang orang lain:
“Mun berita ini tentang diri ulun, apakah ulun rela?”
Pertanyaan tersebut merupakan penerapan sederhana dari pesan Rasulullah saw. tentang mencintai kebaikan bagi saudara sebagaimana kita mencintainya bagi diri sendiri.
Misalnya, ketika menerima pesan:
“Eh, pian tahu kada masalah si A?”
Sebelum meneruskannya kepada orang lain, berhentilah sejenak.
Tanyakan kepada diri sendiri:
-
Apakah informasi ini benar?
-
Apakah informasi ini perlu disebarkan?
-
Apakah ada manfaatnya bagi orang lain?
-
Apakah informasi ini berpotensi merusak nama baik seseorang?
-
Apakah saya rela jika hal yang sama dilakukan terhadap diri saya?
Sebab tidak semua informasi harus dibagikan. Tidak semua persoalan harus menjadi konsumsi publik. Tidak semua hal yang kita ketahui harus kita ceritakan.
Kadang menjaga persaudaraan bukan dengan banyak bicara, melainkan dengan menahan diri.
Kadang bentuk kepedulian paling sederhana adalah tidak ikut menyebarkan sesuatu yang dapat melukai orang lain.
Di era media sosial, menjaga lisan juga berarti menjaga jari-jemari.
Sebab perkataan yang dahulu hanya terdengar oleh beberapa orang, sekarang dapat menjadi jejak digital yang sulit dihapus.
Maka, jangan sampai kita begitu mudah menyebut orang lain sebagai papadaan, tetapi begitu mudah pula mempermalukan dan menjatuhkan martabatnya di ruang publik.
9. Papadaan sebagai Modal Sosial untuk Membangun Masyarakat
Lebih jauh, nilai papadaan sebenarnya memiliki makna yang penting dalam pembangunan kehidupan masyarakat.
Masyarakat yang memiliki rasa persaudaraan dan kepedulian sosial cenderung memiliki ruang yang lebih besar untuk membangun kerja sama, menyelesaikan persoalan bersama, serta menjaga keharmonisan lingkungan.
Bayangkan jika nilai papadaan tidak hanya dipraktikkan dalam hubungan keluarga dan tetangga, tetapi juga dalam kehidupan organisasi, pendidikan, ekonomi, dan pelayanan masyarakat.
Orang yang memiliki usaha tidak hanya memikirkan keuntungan sendiri, tetapi juga membuka kesempatan bagi orang lain.
Mahasiswa tidak hanya sibuk dengan kelompoknya, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Tokoh masyarakat tidak hanya menjaga pengaruhnya, tetapi juga berusaha menjadi penengah ketika terjadi perselisihan.
Pemimpin tidak hanya membangun hubungan dengan kelompok yang mendukungnya, tetapi juga mendengarkan masyarakat yang berbeda pandangan.
Begitu pula dalam kehidupan bertetangga, kita tidak hanya mengenal orang lain ketika membutuhkan bantuan, tetapi juga berusaha menjaga hubungan baik dalam keadaan apa pun.
Di sini, papadaan dapat dipahami sebagai modal sosial: kepercayaan, solidaritas, kepedulian, dan jaringan hubungan yang memungkinkan masyarakat bekerja bersama.
Namun, modal sosial itu hanya akan bermakna apabila dibangun di atas kejujuran, keterbukaan, dan keadilan.
Sebab masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang tidak memiliki perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
PENUTUP: Tiga Dimensi Papadaan
Pada akhirnya, papadaan dapat kita pahami melalui tiga dimensi yang saling berkaitan.
Pertama, papadaan sebagai identitas.
“Kita ini urang Banjar.”
Di dalamnya terdapat rasa memiliki terhadap budaya, bahasa, kampung halaman, tradisi, dan sejarah bersama.
Identitas menjadi pengingat bahwa kita memiliki akar kebudayaan yang patut dijaga dan diwariskan.
Kedua, papadaan sebagai hubungan sosial.
“Kita saling mengenal dan saling membutuhkan.”
Di dalamnya terdapat silaturahmi, gotong royong, tolong-menolong, serta kesediaan untuk hadir ketika orang lain mengalami musibah maupun kebahagiaan.
Hubungan sosial menjadikan manusia tidak hidup sendirian, tetapi menjadi bagian dari kehidupan bersama.
Ketiga, papadaan sebagai akhlak.
“Ulun menjaga ikam karena ikam adalah manusia yang Allah muliakan.”
Di sinilah Islam memberikan kedalaman makna terhadap persaudaraan.
Sebab persaudaraan tidak berhenti pada:
“Ikam urang kita.”
Tetapi berkembang menjadi:
“Ikam saudara yang harus ulun perlakukan dengan baik.”
Ada satu hal yang penting untuk kita renungkan: jangan sampai kita begitu bangga menyebut diri sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru mudah saling menjatuhkan.
Jangan sampai kita begitu mudah mengucapkan papadaan ketika bertemu, tetapi sulit memberikan pertolongan ketika saudara membutuhkan.
Jangan sampai kita mengaku menjunjung tinggi budaya badangsanak, tetapi tidak mampu menjaga kehormatan dan perasaan orang lain.
Sebab nilai kebudayaan tidak diukur hanya dari seberapa sering kita mengucapkannya, tetapi dari seberapa jauh nilai itu hidup dalam perilaku.
Kalau budaya mengajarkan kita untuk merasa badangsanak, Islam mengajarkan bagaimana memperlakukan badangsanak dengan akhlak.
Maka, mudah-mudahan papadaan bukan hanya menjadi kata yang kita ucapkan, melainkan menjadi nilai yang kita jalankan.
Bukan hanya menjadi kebanggaan identitas, tetapi juga menjadi kesadaran untuk saling menjaga.
Kita perlu membuktikannya melalui tindakan sederhana:
“Mun ikam susah, ulun ada.”
“Mun ikam salah, ulun ingatkan.”
“Mun ikam bahagia, ulun ikut bersyukur.”
“Mun ikam berbeda lawan ulun, kita tetap badangsanak.”
Sebab persaudaraan tidak selalu berarti berjalan di jalan yang sama. Terkadang kita menempuh jalan berbeda, memiliki pandangan berbeda, bahkan mengambil keputusan yang berbeda. Namun, semua itu tidak harus menghilangkan rasa hormat dan kepedulian di antara sesama.
Pada akhirnya, papadaan bukan sekadar persoalan siapa yang berasal dari lingkungan, kelompok, atau keturunan yang sama. Lebih dari itu, papadaan adalah tentang bagaimana kita membangun kehidupan yang saling menghargai, saling menguatkan, dan saling menjaga.
Papadaan bukan sekadar sapaan.
Papadaan bukan sekadar identitas budaya.
Papadaan adalah tanggung jawab moral untuk menjaga persaudaraan.
Karena papadaan yang sesungguhnya bukan hanya ketika kita merasa menjadi bagian dari orang lain, tetapi ketika kita bersedia hadir, peduli, dan berbuat baik bagi mereka.
Di situlah budaya menemukan ruhnya, persaudaraan menemukan maknanya, dan Islam memberikan arah bagi kehidupan manusia.
(Editor: Humas FUH/Alf)




